Tanpa Judul

Tawa-tawa meledak. Mengisi seluruh sudut ruang. Sang pengisi ruang bercerita, bermain, bahkan sempat pula bekerja. Mengambil, mengembalikannya, lantas berteriak. Elise berada diantara sang pengisi ruang. Duduk tanpa sandaran menunggui mereka. Ya! Mereka gaduh sejadi-jadinya.

“Kenapa kau hanya disitu, kemarilah!” Teriak Elise sambil melirik Aroon.

Aroon membalasnya tanpa kata tanpa pula memandang Elise. Tapi senyum itu, dia membalasnya dengan menarik bibirnya. Senyum itu, Senyum itu menguap lantas menelusup ke pundi-pundi hati Elise. Gadis berambut pirang itu mengerjab-ngerjab tak percaya. Lelaki tinggi itu mendekat. Jaket hitam yang melekat membuatnya terlihat lebih tampan hari ini. Selangkah lagi, lelaki itu berada tepat di depan Elise. Elise menahan nafas, tak mengedipkan matanya.

“Kak Elise, tempel ini?”

“Ha… apa yang aku tempel? Dimana nempelnya? Di jidat kamu?”

“Tempel dihati aku aja kak!” Teriak Gina sambil nyengir.

Tangan Elise menyambar stiker bergambar pororo. Senyumnya merekah, bak bunga yang menampilkan keindahan setelah berkuncup. “Mana aku kerjakan.”

“Sini aku bantu.”

Tangan itu menyambarnya. Lembut mengenai jemari Elise, terlepas cangkir kecil dari tangan Elise. Tak sadar, Elise menyerahkannya. Tak sadar pula semua itu menjadi manik-manik yang akan berceceran dalam ruang hati Elise. “Maafkan aku Aroon. Kau dan manik-manik itu.”

***

Elise tak percarya. Hatinya bergumam sejadi-jadinya. Matanya seolah sempat memeluk lelaki tinggi itu. Aroon tetap Aroon.

“Ada apa dengan Aroon? Aroon berbeda,” Elise mendesah pelan.

Kakinya masih menggantung, pikirannya terbang entah ke mana. Jemarinya bergerak-gerak membuat pola-pola kecil. Matanya menahan hujan. Mungkin hujan yang akan membasahi hatinya. “Elise… please tahan! Hujan kali ini tidak tepat. Kau berada tak jauh dari mereka,” hati Elise menjerit.

Mata Elise mulai mengumpul kekuatan, kakinya mulai menguat. Menyambar tas di sampingnya. Tangannya menahan untuk mengangkat tubuhnya. Elise terhempas.

Elise beranjak. Berlalu. Tak disangka, tepat lelaki yang dikaguminya berada di depannya. “Aroon…” Elise kembali berdesah dan menggigit bibirnya.

“Mau kau pulang bersamaku?” tanya Elise canggung.

“Boleh.”

Aroon berjalan gontai. Tangannya sibuk bermain-main dengan tasnya. Matanya seolah sibuk merapikan apa yang dilihatnya.

“Kenapa Aroon, kau sudah lupa kebiasaan kita? Kau sudah lupa semua? Aku akan belanja malam ini, kau ikut?”

“Bukan karena aku lupa. Bukan karena aku lupa Elise. Aku sama seperti kau ingin belanja malan ini. Kau tahu uangku dipucuk keciutan.”

“Uang dipucuk keciutan? Mari kita seperti biasa. Melangkah riang sejadi-jadinya. Kita nikmati bersama. Itu kita dulu Aroon.”

“Yuk…”

Satu kata itu tegas sekali. Dua pasang kaki berjalan beriring. Tawa-tawa meledak sekilas. Lantas canggung, takut, bingung, marah. Elise! Semua Elise rasakan.

Angin berhembus mengamuk malam ini. Langit menciutkan harapan. Gumpalan warna hitam, kian menggantung berjajar tak beraturan. Elise menadahkan tangannya. Sudut matanya melirik Aroon, seperti biasa sudut mata itu menelisik. Mencari-cari kejanggalan. Benar, semua janggal. Semua seolah bukan berada dikebenaran. Mengambang, terombang-ambing, diam, kaku, membeku.

“Kau berbeda.” Elise berucap pelan dan tetap melirik Aroon.

“Apa yang beda dari diriku? Aroon yang kau kenal sekarang dan dulu? Aroon yang sama dengan nama dan orang yang sama Elise.”

“Kau berbeda,” ucap Elise sekali lagi.

Aroon hanya terdiam. Bola matanya sibuk menjadi pengamat terbaik bagi dirinya. Pengamat lampu yang berjajar. Pengamat kebahagiaan dan kesedihan orang yang ditemuinya. pengamat Elise tanpa harus melihatnya. Tanpa harus bertanya.

Terkadang perasaan menyuruh untuk membungkam. Terkadang perasaan menyuruh untuk terbang. Terbang menyapa rembulan yang bersembunyi dibalik gumpalan hitam. Lantas berbisik kata terbaik.

“Kau berbeda Aroon.” Elise menghentikan langkah Aroon dan menatap kuat kedua matanya.

Mata teduh itu membalasnya. Senyuman itu disuguhkannya. Hp kecilnya masih berada tepat di tangannya. “Tunggu di sini,” ucap Aroon pelan.

Buncah hati Elise, menggerung hati Elise. Sudah berapa lama? Sudah berapa lama waktu itu malas berputar. Masih tenggelam seolah melenyapkan dirinya. Tapi Elise, masih bisa ditengah malam meramu do’a. Doa-doa terbaik untuk Aroon. Aroon yang berbeda. Hati Elise benar-benar buncah.

“Tempat ini Aroon, andai kau ingat.”

-BERSAMBUNG-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s