Sistem Informasi Perpustakaan di Era Globlalisasi

Tugas mata kuliahTeknik Pemrograman dan Pengamanan WEB “Ilmu Perpustakaan FIA-UB” disusun oleh: Ika Wahyu Utari 125030700111031 Qonita Nadia 125030700111035 Dea Pristotia Anggi R. 125030700111036 Evi Luthfiatur Rohmah 125030701111002

 

Teknologi informasi sekarang bukanlah hal yang baru. Segala sesuatu dituntut lebih cepat telah memaksa otomasi diciptakan. Perkembangan dalam berbagai bidang harus menyesuaikan perubahan agar tidak mengalami ketertinggalan. Sesuai dengan kebutuhan manusia yang tiada batas maka alat pemuas kebutuhan manusia juga harus menunjang. Jika tidak dapat memenuhi kebutuhan maka sudah tentu bahwa hal tersebut akan ditinggalkan pengguna. Seperti yang diketahui perkembangan informasi dari masa ke masa. Sudah berapa lama orang – orang menggunakan penyebaran informasi dari mulut ke mulut, melalui tulisan – tulisan, radio, televisi, dan internet. Hal tersebut muncul karena kebutuhan manusia itu sendiri. Saat ini kebutuhan manusia akan informasi semakin bertambah. Maka alat pemenuh kebutuhan memberikan solusi, seperti dengan munculnya berbagai macam search engine, website – website yang berisi banyak informasi. Semua orang kemudian berlomba untuk menambahkan informasi. Namun karena adanya kebebasan untuk membuat dan menciptakan informasi ini akan menimbulkan masalah baru yang saat ini dikenal dengan istilah banjir informasi. Seperti yang diketahui bahwa banjir bukan merupakan hal yang baik, begitu juga dengan informasi. Ini merupakan suatu keadaan dimana terdapat banyak informasi namun kebenaran dari informasi tersebut belum dapat diakui kebenarannya. Hal ini kemudian yang mendorong lembaga yang berhubungan dengan sistem informasi namun sering kali diacuhkan masyarakat.perpustakaan yang penuh buku menciptakan paradigma masyarakat dengan kata – kata seperti membosankan, hanya untuk orang – orang pintar, berdebu, dan lainnya. Namun seperti yang diketahui bahwa segala sesuatu nya telah mengikuti perkembangan zaman. Sekarang dengan sistem informasi yang terotomasi perpustakaan mampu bersaing dengan sumber informasi lainnya. Koleksi perpustakaan sekarang tidak hanya berupa koleksi tercetak saja namun juga koleksi non cetak misalnya e-book, e-journal, e-resources yang semuanya itu berbasis elektronik dan bisa diakses lewat internet. Selain itu juga muncullah istilah perpustakaan hibrida, perpustakaan digital, perpustakaan maya dan sebagainya. Di perpustakaan hibrida koleksinya terdiri dari bahan pustaka tercetak dan non tercetak serta sudah menerapkan otomasi dalam setiap sistemnya seperti sirkulasi, temu kembali informasi.
Perkembangan teknologi tersebut pada akhirnya akan memepengaruhi pula terhadap kondisi keberadaan perpustakaan. Pada awalnya perpustakaan ideal diukur dari jumlah koleksi perpustakaan yang banyak dan beragam serta gedung yang besar, namun sekarang ini sudah berubah menjadi perpustakaan tersebut mampu melayani kebutuhan serta memuaskan penggunanya. Oleh karena itu, selain koleksi perpustakaan yang berbasis elektronik ataukoleksi non cetak, teknologi informasi juga diterapkan dalam otomasi pelayanan perpustakaan. Teknologi informasi di perpustakaan digunakan untuk memperoleh data, mengolah, menyusun dan menyimpan data dalam berbagai cara yang tentunya mengguanakan seperangkat alat elektronik guna menghasilkan informasi yang berkualitas yang dapat diakses penggunanya dengan mudah, cepat serta memperoleh hasil yang maksimal.
Penerapan otomasi tersebut dapat berupa katalog yang sudah terotomasi, layanan referensi, serta layanan sirkulasi. Katalog perustakaan yang sudah terotomasi tidak lagi berupa lembaran kertas yang ditumpuk dalam sebuah kota namun sekarang sudah berupa database dalam bentuk digital yang bisa diakses lewat computer yang disebut dengan OPAC (Online Pblic Catalog Acces). Pengguna dapat mengakses katalog dimana saja mereka berada asalkan komputer yang digunakan terhubung dengan jaringan internet sehingga pengguna tidak perlu datang langsung ke perpustakaan untuk melihat daftar koleksi yang dimilki perpustakaan tersebut. Pengguna cukup duduk didepan komputer dan masuk ke OPAC perpustakaan yang ingin dituju untuk melihat apakah buku yang mereka cari ada diperpustakaan itu. Seandainya perpustakaan itu mempunyai buku yang mereka cari, maka mereka tinggal mengunjungi perpustakaan itu dan bisa membaca ditempat langsung atau meminjamnya. Dalam OPAC juga dapat juga dilihat dirak mana buku tersebut disimpan sehingga memudahkan pengguna untuk mencari dimana letak buku tersebut disimpan. Penerapan otomasi diperpustakaan juga mempercepat serta memudahkan pustakawan dalam melayani pengguna. Namun penerapan teknologi nformasi ini juga tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia, serta peralatan teknologi informasi yang mendukung penerapan otomasi perpustakaan tersebut.
Dalam perkembangan informasi yang ada banyak kemudahan dan dampak positif yang diciptakan,hal tersebut disambut baik oleh kebanyakan masyarakat yang ada, selain itu terdapat pula dampak negative yang terjadi akibat ketidaksiapan masyarakat menerima perkembangan zaman yang serba canggih ini. Masyarakat yang awam tidak didukung oleh pengetahuan mengenai perkembangan ini, mereka juga tidak didukung oleh kemampuan untuk membeli alat atau sarana penunjang informasi yang bagi sebagian orang tidak murah, selain itu mereka juga malas mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Selain itu banyak orang yang faham dalam teknologi informasi justru menyalah gunakan kemampuan tersebut untuk hal yang kurang baik.
Dalam dunia perpustakaan, masyarakat pengguna dan pustakawan juga dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi tersebut, banyaknya kemudahan yang ditawarkan membuat banyak pengguna beralih pada internet dibandingkan pergi keperpustakaan, ini menjadi maslah bagi pustakawan-pustakawn untuk memutar otak, memikirkan strategi agar perpustakaan tidak kalah dengan kemajuan yang ada. Dalam perkembangannya perpustakaan sedikit demi sedikit mengikuti perkembangan zaman menuju perpustakaan digital, namun pada kenyatannya banyak masyarakat yang belum faham tentang perpustakaan digital tersebut, kurangnya sosialisasi pada masyarakat khususnya masyarakat awam memicu respon yang rendah terhadap perkembangan informasi dan perkembangan tersebut.
Pada masyarakat yang faham akan perkembangan ini, lebih memilih mengkopi karya orang lain daripada harus membaca buku dan menuliskan hasil fikiran sendiri, hal ini juga snagt sensitif kepada hak cipata suat karya, kesadaran masyarakat akan hal ini tergolong sangat rendah, selain itu perkembangan teknologi informasi juga mencetak sifat malas pada masyarakat. Padaahal membaca buku tercetak lebih mudah diingat dibandingkan buku elektronik, dalam hal ini sebaiknya perkembangan perpustakaan secanggih apapun tidak meninggalkan buku tercetak,agar respon masyarakat awam maupun yang sudah mengerti tentnag perkembangan teknologi informasi berjalan dengan seimbang.
Kelemahan masyarakat awam akan hal teknologi yang tidak mengetahui adanya teknologi yang sekarang ini semakin canggih atau juga masyarakat yang gaptek membuat masyarakat semakin tidak mau berkembang, maka dari itu hendaknya sebagai masyarakat yang ingin maju dan berkembang tetap mengikuti teknologi yang ada dan mengupayakan agar terfasilitasi karena semakin canggihnya teknologi yang ada. Pemerintah sendiri pun juga dapat mengupayakan agar tiap masyarakat mendapatkannya. Dan juga perpustakaan pun hendaknya lebih memfasilitasi karena perpustakaan merupakan sumber informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Perpustakaan bisa juga menambahkan fasilitas seperti adanya perpustakaan keliling dengan lebih menambahkan teknologi di dalamnya agar masyarakat awam lebih mengerti dan sebagai pustakawan juga memahamkan mereka agar mereka paham akan teknologi yang semakin canggih.
Pustakawan bertugas untuk memahamkan pun juga dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih, karna pustakawan merupakan sumber informasi, yang sebagai pustakawan harus banyak mengetahu berbagai informasi yang ada, dengan mengetahui segala informasi yang ada maka masyarakat tdak akan beralih ke internet dibandingkan dengan ke perpustakaan. Padahal pada kenyataannya perpustakaan lebih banyak informasi yang didapat dibandingkan dengan di internet. Alasan masyarakat lebih memilih internet dari pada perpustakaan adalah karena kurang adanya sosialisasi tentang perpustakaan kepada masyarakat, maka dari itu perpustakaan hendaknya lebih mensosialisasikan perpustakaan kepada masyarakat dan juga menambahkan fasilitas terbaru dan membuat perpustakaan menjadi senyaman mungkin agar masyarakat senang dan puas berada di perpustakaan.
Permasalahan lain yaitu banyaknya masyarakat yang lebih suka mengkopi karya orang lain, dan banyak permasalahan yang membuat masyarakat menjadi malas untuk berfikir dan lebih memilih untuk mengkopi dan kesadaran masyarakat akan hal tersebut sangaylah kurang. Sehingga dengan adanya ini sebaiknya pustakawan tidak meninggalkan buku tercetak dan selalu menyediaka buku tercetak yang terbaru dan informative yang dapat menambah wawasan masyarakat. Pada kenyataannya membaca buku tercetak lebih mudah diingat daripada membaca di internet, sehingga dengan masyarakat membaca buku maka kebiasaan untuk mengkopi karya orang lain akan berkurang. Selain itu hendaknya pustakawan tidak hanya menyediakan buku tercetak tapi juga buku tersebut didigitalkan sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s